Ala Bisa Karena Terpaksa
Budutdwi - Apa yang menyebabkan tupai bisa berloncatan dengan
lincah di dahan-dahan pepohonan tanpa kehilangan keseimbangan ?
Ekor yang panjangnya hampir sama dengan tubuhnya. Ekor tupai
selain untuk menjaga keseimbangan juga berfungsi sebagai kendali. Dengan
menggerakkan ekornya tupai berkelok ke kanan dan kiri.
Yang lebih ajaib lagi dari perilaku tupai ciptaan Allah ini adalah
makanan yang dia cari. Tupai agak kesulitan mencari makanan ketika musim dingin
tiba. Maka tatkala musim panas, tupai bersegera mengumpulkan bahan makanan di
musim dingin. Lalu ajaibnya dimana ?
Tupai tidak mengumpulkan makanan berupa daging/ buah untuk
simpanan musim dingin. Karena kedua jenis makanan tersebut mudah busuk. Oleh
karena itu, tupai hanya mengumpulkan buah-buahan kering yang tahan lama seperti
kenari, hazelnut, dan buah cemara.
Maha suci Allah yang telah menciptakan tupai dengan sifat-sifat
yang dimilikinya. Tak berhenti di sini, ternyata masih ada keunikan yang
dimiliki oleh tupai.
Jika kita pernah melihat kenari, hazelnut atau buah cemara kita
pasti bias membayangkan betapa kerasnya kulit yang melapisi biji-bijian
tersebut. Untuk menikmati kenari/ hazelnut, kita mungkin butuh membenturkannya
dengan sebuah batu. Jika kita punya tang pemecah kenari, maka itulah yang akan
kita gunakan untuk memecah kulit keras pelindungnya. Lalu bagaimana cara tupai
menikmati biji-bijian bermantel tebal dank eras ini ?
Allah membekali mereka dengan dua gigi depan yang tajam. Dengan
kedua gigi tajam tadi mereka memecahkan kulit pelindung biji. Jika kita
membutuhkan tenaga ekstra ketika menggenggam tang pemecah kulit kenari, butuh
berapa kali benturan jika menggunakan batu. Bias kita bayangkan berapa kali
tupai harus menggigit kulit kenari tadi hingga akhirnya bias menikmati isinya.
Ketika gigi tajamnya tadi mulai tumpul/ aus, Allah menumbuhkan kembali gigi
tajam baru untuk menggantikannya. Betapa luar biasa siklus yang Allah
karuniakan kepada tupai.
Ala bisa karena terpaksa
Pernah mendengar peribahasa, ala bisa karena biasa ? nah, ala bisa
karena terpaksa ini plesetan dari peribahasa tersebut. Karena sering dipaksa
melakukan sesuatu, akhirnya menjadi
kebiasaan di alam bawah sadar seseorang. Hingga akhirnya dia dengan mudah bisa
melakukan hal tersebut.
Manusia adalah makhluk yang berpola. Kebiasaan yang dilakukannya
muncul dari pengulangan yang sering dilakukan. Ketika seseorang mengulang-ulang
untuk makan dengan tangan kanan akan menjadi kebiasaannya. Ketika seseorang
mengulang-ulang tidur sebelum pukul 10 malam, maka itu tadi akakan menjadi
kebiasaannya
Demikian juga dengan ibadah atau amalan baik lainnya. Akan menjadi
kebiasaan ketika berulang kali dilakukan. Siapa yang tidak mau hidupnya
dipenuhi dengan kebiasaan beramal baik ?
Diakui atau tidak, ketika memulai sesuatu yang baru kita pasti
memaksa diri dikayuhkan pertama. Kala ramadhan masuk, kita memaksa diri kita
untuk menggiatkan seluruh amal ibadah. Sholat sunnah rawatib pertama mungkin
terasa janggal, tetapi yang kedua, ketiga dan seterusanya berjalan lebih
nyaman. Puasa hari pertama terasa sangat haus dan lapanarnya, namun hari-hari
selanjutnya semua terasa lebih ringan. Bangun sahur pertama menyisakan kantuk
di pagi harinya, kemudian sahaur-sahur selanjutnya pola tidur kita menjadi
terbiasa berubah.
Mengapa memulai ibadah harus dengan paksaan ? karena nafsu cenderung suka hal-hal yang
lena dan santai. Nafsu cenderung mengarahkan kita kepada perbuatan yang
dimurkai Allah. Kita mendidik nafsu kita dengan memaksanya akrab dengan
kebaikan. Sampai akhirnya sang nafsu terbiasa dekat dengan amal-amal yang Allah
cintai.
Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Mubarak,
“sesungguhnya orang shalih sebelum kita, jiwa mereka mendukung
kebaikan. Sedangkan jiwa kita tidak ingin melakukan kebaikan kecuali dalam
keadaan terpaksa. Maka kita harus memaksa diri kita.”
Ketika ada rezeki lebih, paksakan untuk terbiasa bersedekah.
Niscaya waktu rezeki kita sempit, kita juga akan lebih lapang untuk berbagi
dengan yang membutuhkan. Ketika ada waktu luang, paksakan untuk membaca
Al-Qur’an, sungguh itu akan membantu tangan kita lebih mudah meraih dan
bermesraan dengan mushaf ketika kesibukan mulai menghamiri kita.
Merubah terpaksa jadi biasa
Mari kita coba simpulkan pembahasan di atas. Untuk membiasakan
sesuatu seseorang harus mengulang-ulang perbuatan tadi. Untuk melakukan
kegiatan yang berulang-ulang seseorang mungkin harus memaksa dirinya dan
membunuh rasa jenuh dan bosan yang dirasakannya.
Pertanyaan selanjutnya, berapa lamakah harus dilakukan pengulangan
hingga akhirnya bisa menjadi kebiasaan ?
Mitos yang berkembang di masyarakat kita, orang butuh melakukan
pengulangan amalan selama 21 atau 28 hari untuk merubahnya menjadi habit (kebiasaan).
Ternyata mitos tersebut tudak sepenuhnya benar. Penelitian terbaru yang dimuat
di European Journal of Social Psychology mengatakan paling tidak dibutuhkan 66
hari sampai amalan yang kita ulang-ulang tadi kemudian menjadi kebiasaan.
30/ 29 di ramadhan tak cukup bagi mayoritas orang untuk menjadikan
amalan yang mereka lakukan menjadi kebiasaan baik yang terus menerus. Mengapa tidak,
kita mulai memaksa membiasakan amalan-amalan tersebut di bulan Sya’ban ? hingga
nantinya di bulan syawal, Dhulqo’dah, Dhulhijjah dan bulan selanjutnya
amalan-amalan mulia tadi menjadi kebiasaan di kesehariaan kita.
Jangan berhenti sampai amalan tadi bisa nyaman kita lakukan dan
menjadi kebiasaan baik. Seperti tidak berhentinya tupai menggigit kulit kenari
yang keras hingga bisa pecah dan menikmati isinya. Semoga Allah melihat usaha
kita dan memperkuat niatan kita, seperti Allah menumbuhkan kembali gigi baru
bagi tupai, jika gigi lamanya mulai aus karena usahanya memecah kulit kenari.
---thanks BaitulMal FKAM edisi 92 Mei---


Comments
Post a Comment